Laporan ITH Pengambilan Contoh Tanah

LAPORAN ILMU TANAH HUTAN
ACARA 1
PENGAMBILAN CONTOH TANAH



LABORATORIUM ILMU TANAH HUTAN
BAGIAN SILVIKULTUR
FAKULTAS KEHUTANAN
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2013

ACARA 1
PENGAMBILAN CONTOH TANAH
I.                   Tujuan
Tujuan diadakannya praktikum ini adalah :
1)      Mahasiswa mengetahui bagaimana cara pengambilan contoh tanah
2)      Mahasiswa mengetahui perbedaan pengambilan contoh tanah yang disesuaikan dengan sifat-sifat tanah yang disidik

II.                Dasar Teori
Contoh tanah adalah suatu volum massa tanah yang diambil dari suatu bagian tubuh tanah (horizon/lapisan/solum) dengan cara-cara tertentu disesuaikan dengan sifat-sifat yang akan diteliti secara lebih detail di laboratorium (Agus ,2009).
Pengambilan contoh tanah dapat dilakukan dengan 2 teknik dasar yaitu pengambilan contoh tanah secara utuh/tak terusik dan pengambilan contoh tanah tak utuh atau terusik (Agus, 2009). Fraksinasi adalah penganalisisan sifat-sifat fisika tanah dengan cara memisahkan butir-butir primer tanah tersebut. Untuk mencari dan atau mengetahui sifat fisik tanah, kita dapat menggunakan pengambilan contoh tanah dengan tiga cara, yaitu : tidak terusik,terusik,agregat tidak terusik
Untuk mencari dan atau mengetahui sifat fisik tanah, kita dapat menggunakan pengambilan contoh tanah dengan tiga cara, yaitu :
a.       Contoh tanah tidak terusik, yang diperlukan untuk analisis penetapan berat isi atau berat volume, agihan ukuran pori, dan untuk permeabilitas
b.      Contoh tanah terusik, yang diperlukan untuk penetapan kadar lengas, tekstur, tetapan atterberg, kenaikan kapiler, sudut singgung, kadar lengas kritik, indeks patahan, konduktivitas hidroulik tak jenuh, luas permukaan, erodibilitas tanah menggunakan hujan tiruan.
c.       Contoh tanah dalam keadaan agregat tidak terusik, yang diperlukan untuk penetapan agihan ukuran agregrat dan derajad kemantapan agregrat.
Contoh tanah tak terusik diperlukan untuk analisis penetapan berat jenis atau berat volum,agihan ukuran pori dan permeabilitas (Agus ,2009).
Contoh tanah terusik diperlukan untuk penetapan kadar lengas, tekstur, tetapan Atterberg, kenaikan kapiler, sudut singgung, kadar lengas kritik, indeks patahan, konduktifitas hidroulik tak jenuh, luas permukaan, erodibilitas tanah menggunakan hujan tiruan (Agus ,2009).
Tekstur tanah menunjukkan komposisi partikel penyusun tanah yang dinyatakan sebagai perbandingan proporsi (%) relatif antara fraksi pasir (sand) (berdiameter 2,00-0,20 mm), debu (silt) (berdiameter 0,2-0,002 mm), dan liat (clay). Terasa kasar, tanpa rasa licin dan tanpa rasa lengket, serta tidak bisa membentuk gulungan atau lempengan kontinyu, berarti tanah bertekstur pasiran. Jika partikel tanah terasa halus, lengket, dan dapat dibuat gulungan atau lempengan kontinyu, berarti tanah bertekstur liat. Tanah bertekstur debu akan mempunyai partike-partikel yang terasa agak halus dan licin tetapi tidak lengket, serta gulungan atau lempengan yang terbentuk rapuh. Tanah bertekstur lempung akan mempunyai partikel-partikel yang mempunyai rasa ketiganya secara proporsional.(Ali, 2005)
Warna tanah yang sering kita jumpai adalah warna kuning, merah, coklat, putih, dan hitam. Faktor-faktor yang mempengaruhi intensitas warna tanah adalah :
·        Kadar lengas dan tingkat hidratasi
·         Kadar bahan organik
·        Kadar dan mutu mineral (Mulyani, 2002)
Struktur tanah adalah susunan ikatan partikel-partikel satu dengan yang lain. Ikatan partikel/zarah itu berwujud atau dinamakan agregat. Penggolongan tipe sruktur dibedakan menjadi :
1.      Tipe lempung: mempunyai horizontal lebih panjang daripada vertikalnya.
2.      Tipe tiang: ukuran agregat vertikal lebih panjang daripada horizontal.
3.      Tipe gumpal: ukuran agregat vertikal dan horizontal sama panjangnya.
4.      Tipe remah: agregatnya berbentuk butir-butir yang saling mengikat seperti irisan roti.
5.      Tipe granuler: berbentuk butir-butir yang lepas-lepas, antara butir satu dengan yang lainnya tidak ada ikatan.
6.      Tipe berbutir tunggal: tanah tidak membentuk agregat tanah, berbutir tunggal.

7.      Tipe pejal: merupakan kesatuan ikatan partikel-partikel yang mampat. (Agus, 2009)

Daftar Pustaka
Agus, Cahyono. 2009. Petunjuk Praktikum Tanah Hutan.Yogyakarta : Fakultas Kehutanan UGM
Ali, Kemas. 2005. Dasar-Dasar Ilmu Tanah.Jakarta : PT Raja Grafindo Persada
Gunawan, Rudy. 1990. Pengantar Teknik Fondasi.Yogyakarta : Kanisius
Mulyani, Mul.2002.Pengantar Ilmu Tanah. Jakarta : Rineka cipta

0 Response to "Laporan ITH Pengambilan Contoh Tanah"

Posting Komentar